Labels: life
Kembali ketopik awal, sebenernya yang ingin gw bicarakan adalah sosok orang tua gw yg selama ini mendidik gw secara sabar sampai bisa mensekolah anaknya ditempat yang layak. mungkin ini posting ke2 yang ngebahas lagi lagi tentang ini, tentang seorang anak yang kali ini merasa benar dengan presepsi nya tersebut. apa harus dan selalu yang di ucapkan orang tua itu pasti benar? bahkan 100% benar? atau salahkan jika seorang anak yang merasa benar dengan berbagai bukti2 kuat yang menyatakan kalau ia memang benar dan orang tuanya yang salah? kali ini seorang anak sangat benar dan yakin atas presepsi nya tapi orang tua juga merasa benar dengan presepsinya karna mereka beranggapan merekalah yang lahir duluan dan tidak sedikit memakan asam garam di dunia.
Disinilah mulai mucul konflik-konflik bahkan terus berlanjut suatu saat jika seorang anak merasa dirinya benar. hmmm... bisa dibilang anak durhaka gak ya? karena pada kodratnya mustahil jika anak mengajari orang tua mana yang benar dan salah.
Anak tersebut masih sabar dan beranggapan mungkin memang benar kelak apa yang dikatakan orang tua sudah ada jalannya dan seoarang anak memang selalu salah di mata orang tua. ia selalu berharap dan menunggu suatu saat orang tuanya bisa sadar apa yang diucapkan anaknya memang real benar.
cheers,
@fadhilasya
Labels: life
"kenapa anda ingin selalu bertahan hidup?"
"siapa yang membuat anda selalu ingin bertahan hidup?"
"bagaimana cara anda untuk bertahan hidup?"
mungkin itu adalah segelintir pertanyaan bagi orang yang tidak atau kurang mempunyai semangat hidup
Labels: inspiration, life
mungkin gua hanya dapat menunggu waktu yang tepat sampai orang tua gua sadar dengan sendirinya ;((((
Labels: life
Sahabat! Gimana sih rasanya jika kalian punya sahabat yang bener bener deket banget apalagi kalau kita kenal mereka itu dari kecil dan selalu ngertiin kondisi kita. Itu lah yang gue rasaain saat ini dan saat ini gue belum merasa punya sahabat dalam arti menurut gue sendiri. Sekarang ini kenapa ya gue lagi gencar gencarnya pengen banget cari sahabat loh tapi bukan sembarang sahabat. Yang gue pengen dia itu cowok dua orang dan udah gue kenal sejak kecil gausah muluk muluk deh kenal dari sd itu udah minimal.
Kenapa gue pilih cowok? Yup itu karena gue gak mau milih yang sesama produk (cewek). Menurut gue sahabat cowok itu lebih asik dibanding cewek. Percuma kalo cewek karna jalan pikirannya pasti sama aja kaya gue sebagai seorang cewek, gak akan ketemu titik omongnya karena aliran seorang cewek sama. Ya walaupun gue tau setiap orang itu punya pola pikir yang berbeda beda tapi beda lah kalau kita punya sahabat cowok (ingat sahabat! Bukana pacar) yang pola pikirnya sangat jauh berbeda dengan cewek. Pokoknya susah banget dibayangin betapa serunya punya sahabat cowok. Dan satu lagi kalo ada kesalah pahaman pasti gak seriweh cewek kan? bahkan bisa jadi marahan untuk selamanya ataupun dia bisa mengumbarkan aib kita semua teman-teman. Tapi gak buat cowok, mana mungkin seorang cowok berbuat seperti itu? itu mustahil ya kalaupun ada mungkin itu cowok yang setengah cewek. Gue bisa banyangin setiap ada waktu ngumpul bertiga, sharing tentang pacar kita masing-masing ya apalah sewajarnya orang sahabatan. Jarang juga kan seorang cewek yang ingin punya sahabat cowok?
**
Tapi menurut gue ini semua cuma angan-angan aja dan gak akan mungkin. Huh gue aja kalo sama cowok awalnya malu malu kucing gimana gitu bahkan cukup pasif. Mungkin kalian semua bepikir kalo cara pikir gue aneh atau apalah, tapi ya itu gue sebenernya. but now what's wrong if I start looking for a male friend?
Labels: friendship, life
tears are words from the heart that can't be spoken
gimanasih cara otak gue berpikir? sampai gue sendiri yang punya tubuh ini gak tau gimana bisa mengendalikan otak dan perasaan yang gua alami sekarang.
gue tau hati ini memang gak punya otak, tapi otak ini memiliki hati sehingga gue bisa tau apa yang gue alami.
saat ini hati gue merasakan iya gue suka tapi disatu sisi otak gue bekerja untuk mengatakan tidak.
mungkin hati ini mengatakan iya karena perasaan sesaat gue yang dengan gampangnya seolah olah gue gak punya otak.
gue harap otak ini jangan sampai berubah dan mengatakan "iya" karna itu tidak mungkin.
cukup hati ini aja yang merasakan karena kalau otak ini ikut mengatakan iya maka ini akan berpengaruh kesemua hal. oke gue tau ini emang cuma perasaan sesaat dan ini cuma seonggok candaan menurut otak gue.
why the heart is not friendly with my brain?
The brain doesn't wanna let the heart down







